Sekarang lagi musim “jualan”. Barang
dagangannya calon walikota Padang, ada sepuluh pasangan yang sudah terlihat
dimana-mana lapak dagangannya, mulai dari yang dipajang di tiang listrik, tiang
telepon sampai yang dipaku dipohon pelindung. Ada juga yang dipampang di
perempatan jalan. Semuanya itu dilakukan agar yang ditawarkan laku dan ada yang
membelinya nanti di dalam bilik suara. Mulai sekarang mereka menawarkan
produknya, apa saja keunggulannya, yang menarik ditampilkan keluar, persis
sekali seperti pedagang yang ada di pasar raya.
Selama ini pemerintah kota gencar
menertibkan pedagang kaki lima, alasannya mengganggu ketertiban kota, merusak
pemandangan, menyebabkan kemacetan dan seabrek alasan lainnya, dan memang benar
adanya. Tapi mari lihat calon calon pemimpin yang sedang berjualan tersebut,
tak ada bedanya dengan pedagang kaki lima. Berbagai macam alat kampanye
terpasang disembarang tempat, merusak pemandangan, menyebabkan kesemrawutan. jadi
apa bedanya?
Barangkali ini memang hal yang
harus terjadi, sistem pemilihan pimpinannya yang mengharuskan seperti itu. Setiap
orang berhak mengajukan diri jadi calon pemimpin, bahkan kadangkala kemampuan
tidak perlu dilihat, yang terpenting tenar dan punya popularitas. Intinya pemimpin
yang terpilih bukanlah pemimpin yang terbaik tapi pemimpin yang terpopuler,
yang memiliki banyak penggemar.