Jumat, 13 September 2013

Dharmasraya, setahu saya...

Kantor Bupati Dharmasraya
Dharmasraya berasal dari dua suku kata; Dharma dan Asraya. Dharma lebih kurang artinya hukum, aturan atau bisa juga berarti budi sedangkan Asraya bermakna payung yang melindungi. Kalau mau diartikan secara kasar makna kata Dharmasraya, menurut saya sendiri mungkin lebih kurang; tempat berlindung suatu masyarakat dengan suatu sistem atau aturan yang mengiringi kehidupan masyarakat tersebut. Itu pendapat saya lho. Tapi toh kata Dharmasraya sekarang menjadi sebuah nama kabupaten di Sumatera barat yang notabene tempat hidupnya sekelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan ketika masih bergabung dengan kabupaten Sawahlunto/sijunjung sembilan tahun silam.

Dharmasraya dimekarkan menjadi kabupaten secara resmi pada tanggal 7 januari 2004, ketika itu saya masih duduk dibangku kelas dua SMP tepatnya SMP N 1 Sitiung. Waktu mendengar berita ini saya senang senang aja, tapi tidak tahu apa yang buat saya senang. Dengan beribukota di Pulau Punjung Dharmasraya sekarang bergerak menuju arah yang baik untuk semua masyarakatnya. Semoga memang seperti itu.
Dharmasraya berada di bagian ujung Sumatra Barat yang langsung berbatasan dengan provinsi Jambi dan provinsi Riau, di sebelah utara ada kabupaten Sijunjung dan Kuantan Singingi (Riau), di sebelah Barat ada Kabupaten Solok dan Solok Selatan lalu di bagian timur ada kabupaten Bungo dan Tebo (Jambi), dan sebelah selatan ada kabupaten Kerinci (Jambi). Dengan luas wilayah nyaris 3000 Km persegi, dengan kondisi berbukit dan bergelombang dengan ketinggian sekitar 1500 m diatas permukaan laut.

Masyarakat di Dharmasraya itu bisa dibilang heterogen, banyak macamnya ada suku minang, jawa, sunda dan dari sumatra utara juga ada. Namun meskipun demikian jarang terjadi “perperangan” antara kelompok masyarakat tersebut, bisa dibilang tidak ada malah. Hal ini mungkin karena seluruh elemen tersebut telah bercampur baur. Kalau oarng bilang sudah membentuk suatu harmoni yang baik, sehinga hal-hal yang berbau kesukuan itu tidak membuat adanya rasa dominan pada salah satunya.

Dulu sempat terjadi sedikit perbedaan pendapat untuk memposisikan dimana letak ibu kota kabupaten. Ada yang ingin meletakkan di Pulau Punjung dan ada yang ingin meletakkan di posisi yang lebih adil untuk semua jika dilihat dari segi jarak, dengan kata lain diletakkan di tengah-tengah, dan saya pun setuju dengan pendapat yang terakhir ini karena jika diletakkan di pulau punjung, masyarakat yang berdomisili di wilayah arah dekat ke provinsi jambi tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan. Namun apa dikata palu mungkin sudah terlanjur diketok dan memang itu mungkin keputusan yang terbaik, semoga. Tapi yang penting itu pembangunan merata untuk seluruh wilayah di Dharmasraya.


Dan gedung DPRD baru telah diletakkan diposisi tengah-tengah tepatnya di Gunung Medan, dimana sebelumnya di Pulau Punjung. Tapi sampai tulisan ini ditulis gedung baru ini belum digunakan karen a belum selesai 100%. Apakah ini “paumbuak” sebagian mereka yang dulu kecewa karena ibukota di Pulau Punjung?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar