![]() |
| Kantor Bupati Dharmasraya |
Dharmasraya berasal dari dua suku kata; Dharma dan Asraya.
Dharma lebih kurang artinya hukum, aturan atau bisa juga berarti budi sedangkan
Asraya bermakna payung yang melindungi. Kalau mau diartikan secara kasar makna
kata Dharmasraya, menurut saya sendiri mungkin lebih kurang; tempat berlindung
suatu masyarakat dengan suatu sistem atau aturan yang mengiringi kehidupan
masyarakat tersebut. Itu pendapat saya lho. Tapi toh kata Dharmasraya sekarang
menjadi sebuah nama kabupaten di Sumatera barat yang notabene tempat hidupnya
sekelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan ketika masih bergabung dengan
kabupaten Sawahlunto/sijunjung sembilan tahun silam.
Dharmasraya dimekarkan menjadi kabupaten secara resmi pada
tanggal 7 januari 2004, ketika itu saya masih duduk dibangku kelas dua SMP
tepatnya SMP N 1 Sitiung. Waktu mendengar berita ini saya senang senang aja,
tapi tidak tahu apa yang buat saya senang. Dengan beribukota di Pulau Punjung Dharmasraya
sekarang bergerak menuju arah yang baik untuk semua masyarakatnya. Semoga memang
seperti itu.
Dharmasraya berada di bagian ujung Sumatra Barat yang langsung
berbatasan dengan provinsi Jambi dan provinsi Riau, di sebelah utara ada
kabupaten Sijunjung dan Kuantan Singingi (Riau), di sebelah Barat ada Kabupaten
Solok dan Solok Selatan lalu di bagian timur ada kabupaten Bungo dan Tebo (Jambi),
dan sebelah selatan ada kabupaten Kerinci (Jambi). Dengan luas wilayah nyaris
3000 Km persegi, dengan kondisi berbukit dan bergelombang dengan ketinggian
sekitar 1500 m diatas permukaan laut.
Masyarakat di Dharmasraya itu bisa dibilang heterogen,
banyak macamnya ada suku minang, jawa, sunda dan dari sumatra utara juga ada. Namun
meskipun demikian jarang terjadi “perperangan” antara kelompok masyarakat
tersebut, bisa dibilang tidak ada malah. Hal ini mungkin karena seluruh elemen
tersebut telah bercampur baur. Kalau oarng bilang sudah membentuk suatu harmoni
yang baik, sehinga hal-hal yang berbau kesukuan itu tidak membuat adanya rasa
dominan pada salah satunya.
Dulu sempat terjadi sedikit perbedaan pendapat untuk
memposisikan dimana letak ibu kota kabupaten. Ada yang ingin meletakkan di
Pulau Punjung dan ada yang ingin meletakkan di posisi yang lebih adil untuk
semua jika dilihat dari segi jarak, dengan kata lain diletakkan di tengah-tengah,
dan saya pun setuju dengan pendapat yang terakhir ini karena jika diletakkan di
pulau punjung, masyarakat yang berdomisili di wilayah arah dekat ke provinsi
jambi tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan. Namun apa dikata palu mungkin
sudah terlanjur diketok dan memang itu mungkin keputusan yang terbaik, semoga. Tapi
yang penting itu pembangunan merata untuk seluruh wilayah di Dharmasraya.
Dan gedung DPRD baru telah diletakkan diposisi tengah-tengah
tepatnya di Gunung Medan, dimana sebelumnya di Pulau Punjung. Tapi sampai
tulisan ini ditulis gedung baru ini belum digunakan karen a belum selesai 100%.
Apakah ini “paumbuak” sebagian mereka yang dulu kecewa karena ibukota di Pulau
Punjung?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar