Malam tadi saya menyaksikan
pertandingan bola antara Indonesia melawan Thailand. Lanjutan dari AFF U19. Dari
awal saya memang tidak menjagokan Indonesia, tanya kenapa? Saya sendiri juga
tidak tahu. Sejak terjadinya dualisme sepakbola indonesia dan meskipun sekarang
katanya dualisme itu tidak ada lagi, sejak saat itu pula saya tak lagi ada rasa
senang ketika indonesia menang. Malah saya merasa senang ketika indonesia
kalah.
Begitu pula dengan pertandingan
tadi malam, saya kecewa Thailand kalah 1-3 dari indonesia, lebih lebih
kekalahan itu karena pemain Thailand keluar dari lapangan pada babak kedua
karena mendapat kartu kuning keduanya yang “tidak jelas”. Seakan-akan wasit
memihak pada indonesia. Saya memang tidak punya bukti, tapi saya merasa seperti
itu.
Kalau dilihat ketika beberapa
bulan lalu ada klub-klub dari liga di eropa menyambangi indonesia dan
bertanding melawan tim dari indonesia, meskipun bukan atas nama Tim Nas
Indonesia, banyak juga para penonton yang senang melihat Indonesia kalah. Mungkin
memang karena mereka mengidolakan klub klub dari eropa tersebut dan sifatnya
hanya persahabatan saja.
Kemudian kalau ada yang bertanya
tentang rasa nasionalisme saya, ada atau tidak? Saya pikir rasa nasionalisme
tak harus diperlihatkan dengan mendukung tim sepakbola. Itu hanya salah satunya.
Belum tentu orang yang dengan penuh semangat mendukung TimNas punya rasa
nasionalisme yang sama di kondisi lain. Mungkin hanya karena sangat doyan
sekali dengan sepakbola sehingga rasa nasionalisme mereka terlihat disana. Saya
juga suka sepakbola tapi untuk saat ini saya tak doyan mendukung TimNas
Indonesia. Saya lebih senang melihat mereka kalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar